Kompetisi DLS; Peran Kaum Muda untuk Lingkungan

Kompetisi kreatif Duta Lingkungan Sekolah(DLS) awalnya dirancang sebagai bentuk keprihatinan, bahwa banyak sekolah adiwiyata atau berbasis lingkungan tapi peran siswa sebagai warga sekolah sangat rendah, lingkungan sekolah yang bersih bukan dari kesadaran siswasendirinamunkarena kehadiran tukang bersih-bersih sekolah atau tukang kebun sekolah, sementara siswa masih tetap buang sampah sembarangan di luar sekolah.

Kami juga memandang bahwa pendidikan lingkungan hanya dimiliki sekolah-sekolah yang berbasis budaya lingkungan sementara sekolah lain masih banyak yang belum menerapkan kurikulum berintegrasi lingkungan. Sebagai organisasi lingkungan yang berfokus pada perubahan sosial dengan strategi edukasi lingkungan pada kaum muda, Sanggar Lingkungan Hidup merasa perlu melakukan sesuatu, DLS lahir sebagai jawaban atau solusi alternatif untuk meningkatkan kesadaran dan peran kaum muda menjaga lingkungan yang sejatinya adalah hak mereka di masa depan.

Kompetisi ini dirancang tidak hanya sebagai motivasi kaum muda untuk peduli tapi juga merupakan strategi sanggar lingkungan hidup untuk melakukan kaderisasi kaum muda khususnya pelajar dalam segala upaya menyelamatkan lingkungan. Kompetisi DLS sebelumnya telah berjalan selama tiga kali yang masing–masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Duta lingkungan sekolah angkatan pertama berhasil merekrut 250 siswa sekolah dari 5 kabupaten dan kota sewilayah III Cirebon dengan kondisi penyelenggaraan yang sangat sederhana karena belum adanya dukungan dari pihak lain, kemudian angkatan ke-2 sampai ke-4 ini para pendukung kegiatan hadir sebagai stakeholder yang memiliki semangat dalam mengedukasi dan mendidik kaum muda melalui strategi kegiatan berdampak yaitu Kompetisi Kreatif Duta Lingkungan Sekolah.

Para peserta kompetisi ini bukanlah mereka yang hanya bisa berbicara tentang lingkungan, namun juga mempraktikkanya di sekolah selama beberapa bulan dalam konsep “Karya Bakti”, mereka dituntut untuk bisa memberikan pengaruh terhadap sekitarnya, mampu bekerjasama dengan semua komponen di sekolah atau di luar sekolah. Selain itu peserta kompetisi DLS juga dituntut untuk menciptakan atau mengembangakan sebuah inovasi perubahan untuk lingkungan yang berfokus pada beberapa isu seperti : Konservasi SDA dan KEHATI, Daur Ulang Limbah, Energi Alternatif, Kampanye Kreatif Lingkungan dan juga Isu Perubahan Iklim. 

Kompetisi DLS yang diinisiasi Sanggar Lingkungan Hidup Indonesia yang berbasis di Kabupaten Cirebon ini memiliki alur kegiatan yang cukup panjang sebagai sebuah kompetisi, dimulai dari penjaringan peserta kemudian mereka yang terpilih akan mengikuti Visioning Camp dimana para peserta akan dilatih dan dibimbing untuk membuat serta mengembangkan ide inovasinya, menyusun langkah-langkah konkrit mewujudkanya melalui tangga perubahan dan juga mendesain program karya baktinya menjadi sebuah program yangsegar dan visioner. Setelah tahap visioning para peserta akan kembali ke sekolah masing–masing untuk diberikan kesempatan mengimplementasikan apa yang telah mereka rancang pada Visioning Campdan mereka akan diasistensi/didampingi oleh guru juga relawa. Hasil karya bakti ini akan dibuat semacam portofolio kegiatan sebagai bahan penilaian juri yang akan melakukan visitasi bagi peserta yang masuk ke Grand Finalis, tahap akhirnya adalah setiap peserta yang masuk grand finalis akan diuji pada puncak acara YOUTH ENVIRONMENTAL FESTIVAL dimana peserta akan memamerkan hasil karya baktinya dan juga mempresentasikannya di depan juri yang terdiri dari para praktisi lingkungan, akademisi dan juga instansi pemerintah terkait. Bagi mereka yang juara akan diberikan stimulus hadiah untuk mengembangkan ide kreatif dan inovatifnya, pada tahap ini Sanggar Lingkungan Hidup juga akan berperan untuk membantu pengembangan progamnya pasca kegiatan DLS berakhir. 

Program kompetisi DLS tidak hanya sebuah kompetisi seremonial saja, ia disusun sedemikian rupa untuk memberi dampak konkrit pada perubahan sosial dan lingkungan, selain itu posisi kompetisi ini terus dijaga keberlanjutanya. Akhirnya Sanggar Lingkungan Hidup Indonesia berharap melalui kompetisi ini kami bisa mencetaksetidaknya 20.000 Pemimpin Muda yang peduli lingkungan sebagai kado kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-100 tahun pada 2045 demi mewujudkan INDONESIA B.I.S.A (Bersih, Indah, Sejuk & Asri).

Cecep Supriyatna

(Founder Sanggar Lingkungan Hidup Indonesia)

Kompetisi DLS; Peran Kaum Muda untuk Lingkungan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kembali ke Atas

Pin It on Pinterest